bagian 1:
Monolog Sepi Juni 2007
MARTINI
Mak, disini gelap. Pengap. Dingin.
Seperti yang dirasakan abah ketika dikubur hidup-hidup.
Tapi kuyakin ini bukan kuburan, tidak ada bau tanah merah. Bau solar.
Aku juga tidak sendirian seperti abah di kubur. Ada bunyi desah puluhan perempuan di sekelilingku. Tapi mereka bungkam sama seperti mayat di sekeliling kubur abah. Sepi.
Tadi sore aku dan perempuan-perempuan lain dihela masuk ke sini –entah tempat apa, bau solar- segera. Tanpa kami sempat menjamah santap malam nasi dingin lauk sambal. Tapi kami lega bisa keluar dari kamar sempit yang telah dihuni sembilan perempuan selama dua puluh sembilan hari. Aku tahu persis dua puluh sembilan karena Wati – si gadis kembang desa - menghitungnya. Dipulasnya satu garis di tembok dengan gincu merah jambu setiap hari.
ABAH
Andaikan hari itu aku tidak menggali kubur mungkin Martini masih di sini. Tapi juragan Burhan memaksaku. Kubur untuk adiknya harus jadi sebelum magrib. Entah kenapa mayat rentenir itu begitu busuk padahal baru mati sebelum ashar. Siangnya masih kulihat membentak-bentak, menagih tunggakan kepada Mak Inah pemilik warteg. Matinya sepele, makan sebongkah besar daging dalam sekali suap. Tersedak sampai sesak.
Sebagai penggali kubur selama puluhan tahun kutahu penggalian hari itu berbahaya. Menggali dua kuburan sekaligus yang berdekatan membuat tanah labil. Tapi kuburan untuk anaknya Mamat sudah dipesan sejak kemarin. Muntaber selama satu minggu tanpa berobat karena tak ada uang. Benar saja, begitu lubang tergali sempurna, matilah ia. Langsung dikubur tanpa tangis. Tangis mereka sudah kering.
EMAK
Martini apa kabarmu, Nak?
Emak tak tahu bagaimana cara menghubungimu. Emak juga tak tahu kemana kamu akan dibawa. Si calo mulut manis itu ternyata ingkar janji. Katanya seminggu setelah kau pergi, ia akan kabari dimana kamu berada. Sebulan sudah namun tak ada kabar darimu.
Tapi kau tak usah gundah. Hutangmu pasti Emak bayar. Calo mulut manis itu tak bisa ditawar, katanya jika Emak menawar terus kamu akan kelaparan di penampungan. Bisa-bisa kamu terlantar di jalan karena ongkosnya tak cukup.
Semoga uang sepuluh juta dapat menghantarmu ke negeri impian. Emak rela bekerja keras asal kau bahagia.
WATI
Kukira pergi ke luar negeri itu keren. Menunggu di lobi bandara sambil melihat-lihat bule lewat. Lalu dadah-dadah dari pesawat.
Tahu akan begini, takkan kudandan mewah. Semua baju dan perhiasan kupakai, eh hanya rusak oleh lumpur lantai.
Walaupun rumah bapak di kampung tapi itu lebih mewah dari tempat ini. Berlumpur dan lengket. Bajuku yang mahal ini bisa rusak. Padahal kreditnya belum lunas.
“Aku ingin pulang!”
“Aku tak jadi saja ke luar negeri!”
Tapi terlambat…
bersambung….


Judul: Rukun Iman (panduan lengkap akidah anak muslim)
Judul: Sahira Cinta Allah











Komentar Terakhir