
Penulis: Tethy Ezokanzo
“Dor!” tubuh besar itu tersungkur.
Tak lama kemudian seorang pemburu berwajah datar keluar dari rimbunan semak.
“Splash!” parang diayunkan ke kepalanya.
“Sroot!” darah mengucur deras dari dahi.
Pemburu berwajah datar tertawa lebar, di tangannya tergenggam cula yang telah memerah oleh darah. Sang pemilik cula hanya merintih menunggu ajal. Ia ditinggalkan begitu saja. Tersungkur tanpa daya.
Hatinya merintih, “Apa salahku?”
Yah, dia tidak bersalah sama sekali. Keserakahan manusia semata yang membuatnya menderita. Demi sebuah cula, Badak Jawa meregang nyawa.
Padahal badak adalah binatang yang cinta damai. Ia nyaris tidak punya musuh dan lebih sering hidup menyendiri. Badak menghindari perkelahian dan tidak menyerang duluan. Tapi herannya badak terus diburu manusia sehingga hidupnya tidak lagi damai. Jumlah Badak Jawa semakin hari kian menyusut dan sekarang ini hampir punah!
Hanya Bercula Satu
Sumber gambar : blog.unila.ac.id/gnugroho |
Badak Jawa disebut juga Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicus) . Satu dari lima spesies badak yang masih ada. Badak Jawa masuk genus yang sama dengan Badak India. Ciri-ciri Badak Jawa adalah memiliki kulit bermosaik menyerupai baju baja. Badak ini memiliki ukuran panjang sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter. Beratnya mencapai 900-2300 kilogram.
Culanya hanya satu dan berukuran kecil. Namun cula inilah yang membawa petaka baginya. Cula Badak Jawa adalah yang paling diincar dan paling mahal. Harganya $30.000 per kilogram! . Harga yang mahal ini membuat para pemburu liar tergiur. Mereka terus memburu dan menjual cula Badak Jawa dengan cara ilegal.
Terancam Punah
|

Bayi Badak
Sumber gambar : wwf.or.id |
Tahukah Anda, berapa jumlah Badak Jawa yang tersisa sekarang? Tidak lebih dari 60-70 ekor saja!
Sebetulnya perburuan dan penjualan badak dilarang. Telah dibuat juga Konservasi Badak di Taman Nasional Ujung Kulon. Jumlah Badak disana diperkirakan 40-50 ekor.
Selain itu di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam diperkirakan ada sekitar 8 ekor. Juga disiapkan tempat konservasi alternatif di Taman Nasional Halimun Gunung Salak, Jawa Barat. Di sini diduga pernah menjadi habitat Badak Jawa sehingga ia diharapkan ia bisa hidup dan berkembang biak dengan baik.
Tapi pemburu liar terus saja mengincar tidak peduli itu adalah lahan konservasi. Selain karena perburuan, jumlah badak semakin sedikit karena sulit berkembang biak. Badak Jawa melahirkan setiap 3-5 tahun sekali. Lama mengandung 16 bulan dan hanya melahirkan satu ekor anak saja. Bayi badak dipelihara hingga umur 2 tahun, setelah itu ia akan dilepas oleh induknya untuk hidup mandiri. Walaupun begitu masih ada harapan bagi Badak Jawa untuk terus lesatari karena harapan hidupnya cukup panjang, dapat mencapai usia 50 tahun.
Makanannya pun Ikut Langka
|

Biarkan Aku Hidup Tenang
Sumber gambar : ujungkulontour.com |
Badak Jawa adalah hewan herbivora yang suka makan bermacam-macam tumbuhan. Dalam sehari ia makan 50 kg!
Selain tumbuhan ia juga perlu makan garam. Makanya ia suka terlihat sedang minum air laut.
Karena butuh makan banyak, Badak Jawa akan menjelajah sampai sejauh 10 km. Namun semakin hari semakin sulit menemukan makanan. Ini disebabkan luas hutan dan keanekaragaman hayati yang juga semakin mengecil. Daerah jelajah badak juga semakin menyempit terpinggirkan oleh laju pembangunan dan pembukaan hutan.
Miris. Dari hari ke hari kondisi Badak Jawa semakin memprihatinkan. Diburu, kehilangan daerah jajahan, kekurangan makanan, sulit berkembang biak dan akhirnya sakit.
Akankah kita diam saja menyaksikan nasib si badak yang sedang menunggu kepunahan? Bisa jadi beberapa tahun ke depan, kita hanya tahu badak di museum atau lewat gambar saja.
Cinta Damai

Walaupun badannya besar dan tampak seram, tapi Badak Jawa tergolong binatang pemalu dan cinta damai, loh. Ia tidak suka menyerang kecuali ketika mereka berkembang biak dan apabila seekor inang mengasuh anaknya.
Cula badak yang tajam secara alamiah bukan untuk menyerang. Ia menggunakan culanya untuk menggali kubangan lumpur. Berkubang dalam lumpur adalah kebiasaan semua badak. Hal ini untuk menjaga kelembaban kulitnya dan membantu mencegah penyakit dan parasit. Namun mereka lebih sering memakai kubangan yang sudah ada dibanding menggali sendiri.
Cula badak barulah digunakan untuk menyerang jika ada musuh yang menganggu. Misalnya ketika ada manusia atau pemburu mendekat, badak akan berubah menjadi agresif. Ia akan menyerang dengan gigi serinya di rahang bawah dan menikam ke atas dengan kepalanya. Sifat anti sosial ini mungkin merupakan adaptasi terhadap tekanan populasi. Karena secara alami Badak Jawa tidak memiliki musuh. Satu-satunya musuh adalah manusia yang terus memburunya! . Badak yang cinta damapi pun menjadi agresif jika terus menerus diusuik.
Jadi Biarkan mereka hidup damai. Yuk, kita kampanyekan perlindungan Badak Jawa!
| Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Perissodactyla
Famili: Rhinocerotidae
Genus: Rhinoceros
|
Status Konservasi

Artinya: kritis |
|

Badak kehilangan cula
Foto oleh: Bibhab Talukdar dari Aaranyak, Assam. |
(Tulisan ini untuk lomba Writing Contest – Green Your Mind. Ayo pada ikutan, kita hijaukan pola pikir, hijaukan Bumi ^-^)
Tethy Ezokanzo adalah penulis dari Bandung. Suka menulis tentang hewan dan lingkungan. Beberapa artikelnya tentang Fauna, dimuat di majalah Bravo. Ia juga menulis buku tentang lingkungan (Serial Love Earth) bersama suaminya Rofiq Iqbal, yang kebetulan adalah dosen Tehnik Lingkungan ITB. Buku tersebut sedang dalam proses penerbitan.
Komentar Terakhir