Archive for » Januari, 2012 «

Jan
31

bagian 1:

Monolog Sepi Juni 2007

MARTINI

Mak, disini gelap. Pengap. Dingin.

Seperti yang dirasakan abah ketika dikubur hidup-hidup.

Tapi kuyakin ini bukan kuburan, tidak ada bau tanah merah. Bau solar.

Aku juga tidak sendirian seperti abah di kubur. Ada bunyi desah puluhan perempuan di sekelilingku. Tapi mereka bungkam sama seperti mayat di sekeliling kubur abah. Sepi.

Tadi sore aku dan perempuan-perempuan lain dihela masuk ke sini –entah tempat apa, bau solar- segera. Tanpa kami sempat menjamah santap malam nasi dingin lauk sambal. Tapi kami lega bisa keluar dari kamar sempit yang telah dihuni sembilan perempuan selama dua puluh sembilan hari. Aku tahu persis dua puluh sembilan karena Wati – si gadis kembang desa - menghitungnya. Dipulasnya satu garis di tembok dengan gincu merah jambu setiap hari.

ABAH

Andaikan hari itu aku tidak menggali kubur mungkin Martini masih di sini. Tapi juragan Burhan memaksaku. Kubur untuk adiknya harus jadi sebelum magrib. Entah kenapa mayat rentenir itu begitu busuk padahal baru mati sebelum ashar. Siangnya masih kulihat membentak-bentak, menagih tunggakan kepada Mak Inah pemilik warteg. Matinya sepele, makan sebongkah besar daging dalam sekali suap. Tersedak sampai sesak.

Sebagai penggali kubur selama puluhan tahun kutahu penggalian hari itu berbahaya. Menggali dua kuburan sekaligus yang berdekatan membuat tanah labil. Tapi kuburan untuk anaknya Mamat sudah dipesan sejak kemarin. Muntaber selama satu minggu tanpa berobat karena tak ada uang. Benar saja, begitu lubang tergali sempurna, matilah ia. Langsung dikubur tanpa tangis. Tangis mereka sudah kering.

EMAK

Martini apa kabarmu, Nak?

Emak tak tahu  bagaimana cara menghubungimu. Emak juga tak tahu kemana kamu akan dibawa. Si calo mulut manis itu ternyata ingkar janji. Katanya seminggu setelah kau pergi, ia akan kabari dimana kamu berada. Sebulan sudah namun tak ada kabar darimu.

Tapi kau tak usah gundah. Hutangmu pasti Emak bayar. Calo mulut manis itu tak bisa ditawar, katanya jika Emak menawar terus kamu akan kelaparan di penampungan. Bisa-bisa kamu terlantar di jalan karena ongkosnya tak cukup.

Semoga uang sepuluh juta dapat menghantarmu ke negeri impian. Emak rela bekerja keras asal kau bahagia.

WATI

Kukira pergi ke luar negeri itu keren. Menunggu di lobi bandara sambil melihat-lihat bule lewat. Lalu dadah-dadah dari pesawat.

Tahu akan begini, takkan kudandan mewah. Semua baju dan perhiasan kupakai, eh hanya rusak oleh lumpur lantai.

Walaupun rumah bapak di kampung tapi itu lebih mewah dari tempat ini. Berlumpur dan lengket. Bajuku yang mahal ini bisa rusak. Padahal kreditnya belum lunas.

“Aku ingin pulang!”

“Aku tak jadi saja ke luar negeri!”

Tapi terlambat…

bersambung….

Jan
30

Kisah Para Pecinta Al Qur’an

Judul : Cerita-cerita Al Qur’an Menakjubkan untuk Buah Hati

Penulis : Adrian Nugraha dan Deny Riana

Ilustrator : Innerchild Studio

Editor : Imran Laha

Penerbit : Ufuk Kecil

Tahun terbit : Juli 2011

Jumlah : 116 halaman

Buku ini berisi 13 kisah sahabat yang sangat menakjubkan. Misalnya Ali dengan kecerdasannya dapat mengkhatamkan Al Qur’an dalam sekejap, yakni dengan cara membaca surat Al Ikhlas tiga kali. Selain itu, di bagian belakang buku terdapat beberapa surat pendek dilengkapi terjemahan dan tajwidnya.

Sayangnya judul buku tidak sesuai dengan isi, yakni kisah para sahabat ini bukan kisah yang terdapat dalam Al Qur’an. Mungkin lebih tepat jika disebutkan Kisah Para Pecinta Al Qur’an saja. Namun semua kekurangan dalam kisah dapat tertutupi dengan ilustrasi full color yang luar biasa indah dan kemasan lux serta kualitas cetakan yang baik. Menjadikan buku indah ini pilihan yang tepat untuk hadiah buah hati tercinta.

Category: Review  4 Comments